Mojokerto
Raya Jabon KM 07

Surabaya.
Jln, Jemursari 244.

Kamis, 09 Juni 2016

Tujuh Alumni D3 Akpar Majapahit Menatap Masa Depan Melalui Jalur Bisnis

Usai Diwisuda dan Sukses Raih Gelar Sarjana Ekonomi dari IEU 

Tujuh Alumni D3 Akpar Majapahit Menatap Masa Depan Melalui Jalur Bisnis (Naskah ke-2, Selesai) 
USAI diwisuda dan sukses meraih gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Indonesian European University (IEU), tujuh alumni D3 Akpar Majapahit sekarang menatap masa depan melalui jalur bisnis yang mulai dirintis sejak kuliah S1 International Business Management di IEU Surabaya atau bergabung dengan perusahaan lain untuk mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan nyata di masyarakat.

Tujuh alumni D3 Akpar Majapahit yang berhasil menyelesaikan studi S1 International Business Management di IEU adalah Adrianus Tomo Triputro AMd.Par, SE, Desy Handayani Husnan AMd.Par, SE, Ferdyanto Wijaya AMd.Par, SE, Mike Cornelia Asmara Kusuma AMd.Par, SE, Oktavia Ayu Rochmawati AMd.Par, SE, Putri Permatasari Gunawan AMd.Par, SE, dan Yosua Sembiring Meliala AMd.Par, SE.
Adrianus Tomo Triputro AMd.Par, SE, misalnya, antusias mengelola bisnis restoran di Surabaya yang memadukan masakan tradisional Indonesia dan keunikan masakan Thailand yang bisa diterima pasar mancanegara.
Inspirasi membuka bisnis restoran ini setelah dirinya menyelesaikan tesis dengan judul: ”Model of Consumer Decision Making for the Adaptation of Indonesia & Thailand Food to Go International”. 
Pasalnya, setelah menyelesaikan tesis untuk meraih gelar sarjana ekonomi (SE) dari IEU itu, pihaknya semakin termotivasi dan terinspirasi untuk mengkolaborasikan makanan Indonesia dan Thailand yang bisa diterima pasar internasional.  
Misalnya, mengkolaborasikan Kwee Tiauw (Medan) dengan Pad Thai (makanan khas dari Negeri Gajah Putih) karena kedua makanan itu sejatinya sejenis jika dilihat dari resep dan cara mengolahnya. ”Harapan saya dengan kolaborasi seperti itu, saya yakin perpaduan antara makanan khas Indonesia dengan Thailand bisa menandingi ketenaran junk food (makanan sampah) dari Negeri Paman Sam (AS),” tandas Adrianus Tomo di dampingi kekasihnya.
Sedangkan Mike Cornelia Asmara Kusuma AMd.Par, SE pasca diwisuda ini siap-siap berbisnis makanan bayi, setelah sebelumnya eksis menekuni usaha catering terutama menyediakan menu masakan dari rajungan dan aneka sea food yang dipasarkan secara online system melalui media sosial.
Saat berdiskusi bertiga dengan rekan sejawatnya, Adrianus Tomo Triputro AMd.Par, SE dan Direktur Akpar Majapahit Ir Juwono Saroso MM, Mike menuturkan, setelah belajar ilmu manajemen bisnis di IEU dirinya semakin percaya diri dan paham bagaimana sisik melik manajemen bisnis yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan riil.
Untuk itu apa yang telah ditekuni sejak lulus dari D3 Akpar Majapahit terus dilanjutkan dengan memulai bisnis makanan bayi. Tekad kuat ini berarti menutup peluang dirinya untuk bekerja di hotel karena pertimbangan sudah punya momongan anak yang masih batita dan terbentur faktor usia. 
”Saya kan sudah tidak muda lagi pak Ju….,” ujar Ce Mike tersipu saat menjawab pertanyaan Juwono Saroso yang menawarinya bergabung kerja di sebuah hotel berbintang. Mike Cornelia berniat menerjuni bisnis makanan bayi setelah sukses mengangkat tesisnya yang berjudul: ”The Business Healthy Food for Toddler” sehingga dirinya berhak menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE).
Selain Adrianus Tomo, Ferdyanto Wijaya AMd.Par, SE sepertinya juga tertarik dengan dunia kuliner, sehingga tidak menutup kemungkinan jika usai acara wisuda ini dirinya ingin membuka usaha café & resto.
Hasrat membuka café & resto ini setelah dirinya meneliti sepak terjang pebisnis makanan kaki lima (PKL) di Surabaya, Bandung dan Bogor saat menyelesaikan tugas akhir (tesis) dengan judul: ”Prospect Business Street Food in Indonesia. Case Study in Surabaya, Bandung and Bogor”. 
Senada dengan tiga sejawatnya tersebut di atas, Yosua Sembiring Meliala AMd.Par, SE juga mengangkat potensi bisnis restoran Indonesia dengan judul tesisnya: ”The Potential of Indonesian Restaurant in Finland Benchmarking Vietnamese Restaurant”. 
Menurut bujangan berkacamata yang tinggal di Jember ini, potensi bisnis restoran Indonesia di luar negeri khususnya di Finlandia sebetulnya tidak kalah dengan restoran Vietnam yang sudah eksis lebih dulu di sana bahkan menjadi benchmarking (acuan). Pasalnya, keunikan citarasa makanan khas Indonesia punya added value yang bisa mengungguli citarasa masakan Vietnam.
Sementara itu, Desy Handayani Husnan AMd.Par, SE mengapresiasi pemanfaatan ampas tebu di Pabrik Gula (PG) Jombang Baru, untuk diolah menjadi bioetanol sebagai objek penelitiannya, demi meraih gelar Sarjana Ekonomi dari IEU Surabaya.
Stok ampas tebu yang melimpah di PG Jombang Baru sayang jika dibuang begitu saja. Pasalnya, ampas tebu bisa diolah lebih lanjut untuk membuat bioetanol. Bioetanol itu sendiri diyakini merupakan salah satu bahan bakar alternatif demi menjawab kian menipisnya cadangan bahan bakar fosil di perut bumi. 
Untuk itulah, dirinya mengangkat judul tesisnya: ”Product of Bioethanol from Sugarcane Bagase”. Penelitiannya itu mendapatkan apresiasi dari segenap civitas akademika IEU Surabaya karena berhasil dirampungkan dalam waktu tiga bulan.
Trend makanan kesehatan (healthy food) yang mulai banyak dilirik konsumen, terutama untuk diet dan menekan dampak buruk penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus (DM), jantung coroner, stroke, kolesterol, asam urat, gangguan ginjal dan lever (hati), telah menginspirasi Oktavia Ayu Rachmawati AMd.Par, SE untuk meneliti manfaat black rice untuk makanan kesehatan dan bagaimana prospek ke depannya.
Dalam tesisnya itu, gadis cantik asal Cimahi, Provinsi Jabar ini mengangkat judul tulisannya: ”The Prospect to Implement Business to Business and Customer Marketing to Black Rice for Healthy Food”.
Menurut perempuan berjilbab ini, black rice belum setenar beras merah (brown rice) untuk diet dan dimanfaatkan membuat makanan kesehatan (healthy food), namun belakangan black rice mulai dilirik konsumen yang peduli makanan sehat.
Objek penelitiannya mengambil tempat di Ranch Market (sebuah supermarket) di Surabaya dan Malang yang menyediakan black rice. Meskipun black rice ini belum sepopular dibanding brown rice, tetapi belakangan ini konsumen mulai banyak yang mencarinya.

Tak salah jika permintaan black rice di dua pusat perbelanjaan itu saat ini perlahan namun pasti mulai menapak naik daripada sebelumnya. Salah satu pemicunya karena konsumen black rice, merasakan manfaatnya sebagai alternatif healthy food yang direkomendasi medis. Konsumen black rice adalah catering yang menyediakan menu diet untuk kesehatan dan rumah sakit.
Sedangkan Puteri Permatasari Gunawan AMd.Par, SE dalam tesisnya mengangkat judul: ”The Prospect of Green Business. Case Study a Banana Peel”. Perempuan cantik asal Banyuwangi ini antusias meneliti prospek bisnis hijau yang ramah lingkungan seperti peluang bisnis pengolahan limbah kulit pisang sebagai studi kasusnya.
Diakui Puteri, limbah kulit pisang di Banyuwangi cukup melimpah tetapi masih banyak orang yang tidak tahu apa manfaatnya jika kulit pisang itu diproses menjadi produk baru yang berguna dan punya prospek ekonomi di masa depan. Selama ini kulit pisang dibuang begitu saja, jadi pakan ternak atau kalau pun diolah lebih lanjut biasanya untuk dijadikan pupuk organik. 
”Sementara itu, dari kajian ilmiah di luar negeri mengungkapkan bahwa banana peel (kulit pisang) bisa dimanfaatkan untuk kosmetik (masker wajah) karena kandungan nutrisinya setara dengan madu, bisa juga untuk dijadikan tepung kulit pisang yang bermanfaat untuk campuran adonan kue dan sebagainya,” terang Puteri Permatasari, dalam tesisnya. Selamat dan Sukses. God Bless You(ahn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar